Selasa, 28 Desember 2010
Senin, 28 November 2010
KANTIN KEJUJURAN PENDIDIKAN ANTI KORUPSI
Oleh : Kiky Achmad Rizqi
Senja kemerahan menjelang malam beberapa bulan lalu. Suara adzan menggema dari speaker kecil mushalla, yang berada persis di tengah areal asrama. Berduyun-duyun puluhan santri yang terlihat rata-rata sudah dewasa itu sigap menuju masjid, dan mengunggu kiai muda mereka datang memimpin shalat.
Lepas shalat berjamaah dan berdzikir beberapa menit, para santri mahasiswa Pondok Pesantren Al Mu’minien di Kota Indramayu itu kembali mengerjakan aktivitas di kamar masing-masing.
Di pojok lorong asrama bertingkat dua, tersedia sekitar empat buah kamar mandi, yang seperti biasa selalu antri untuk diisi. Sebutlah Wahyudin namanya, mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas yang berada dekat dengan pondok pesantrennya itu, asyik mengunyah sebungkus kacang goreng dan sebotol minum segar. Karena agak lapar, ia ambil lagi beberapa makanan ringan yang disajikan ”kantin tak bertuan” itu.
Tak beberapa lama, pintu kamar mandi terbuka, Wahyudin bergegas masuk untuk mandi. Sebelum masuk, lekas ia rogoh koceknya, lalu ia letakkan beberapa lembar uang ribuan dan koin ratusan rupiah di kardus kecil yang tersedia di atas etalase kaca kantin kecil itu.
Kantin di pojok asrama Pondok Pesantren Pimpinan KH. Moh. Sahli Mahmud, alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan itu, memang jarang ada pedagang yang menjaganya. Pemiliknya hanya sesekali menengok tempat usahanya tersebut. Itupun sekedar menambah stok barang-barang yang mulai habis, atau membersihkan plastik-plastik makanan ringan yang tercecer karena ditiup angin keluar dari bak sampah di pojok lorong.
Di tembok dan etalase tempat makanan ringan, hanya tertulis daftar harga makanan ringan dan minuman segar yang dijual. Di sisi kanan disediakan kardus kecil tempat menaruh uang hasil belanja pembeli, sekaligus tempat pembeli menukar kembalian jika ada kelebihan uang. Tak ada yang istimewa dari pelayanan kantin itu. Tapi kejujuran pembeli sangat diuji untuk belanja di kantin sangat sederhana itu.
Hingga kini sudah hampir puluhan ”kantin kejujuran” (Kanjur) bertebar di ribuan sekolah di Indramayu. Dari sekolah negeri hingga swasta, dari tingkat dasar hingga menengah atas. Lalu bagimana hasilnya?
Setelah berjalan beberapa tahun, hampir rata-rata Kanjur yang ada di berbagai sekolah tidak berkembang. Dalam arti tidak mampu mencapai target 100 persen kejujuran siswa pembeli hingga usaha kantin bisa dibilang menguntungkan. Keberhasilannya diprediksi baru sekitar 60 persen, berdasarkan hitungan untung rugi usaha.
Misalnya dalam kasus Kanjur di MAN 1 Indramayu, dari modal awal sebesar 1,6 juta rupiah, saat ini kas keuangan usaha hanya berkembang menjadi Rp 2 juta.
Nasib berbeda dialami Kanjur MTs N Lohbener, Indramayu. Sejak awal pembukaan, Kanjur di sekolah negeri ini dalam satu minggu, kerugiannya bisa mencapai Rp 100.000. Total defisit dari awal Kanjur itu dibuka telah mencapai Rp 600.000.
Meski beberapa data di atas belum dapat dijadikan patokan indikasi kegagalan keberadaan Kanjur, secara prinsip kantin model ini akan memberi para siswa bekal pendidikan antikorupsi bagi masa depan mereka.
Senin, 28 November 2010
PEMULUNG, POTRET BANTAR GEBANG
Gunung sampah, adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantar Gebang. Sejauh mata memandang, aneka warna-warni terutama warna hitam dari sisa kaleng, plastik, mendominasi pemandangan. Asap mengepul disertai bau menyengat yang membuat perut terasa diaduk-aduk. Begitulah fenomena di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (05/12).
Sementara itu, para pemulung tak ubahnya para musafir dihamparan sampah. Pakaian kotor, terkadang bertambal, bau, dengan penutup kepala seadanya, kumuh, adalah kesan yang tertangkap dari komunitas Bantar Gebang.
Suasana agak riuh terjadi manakala truk pengangkut sampah datang. Para pemulung dengan berjuta harapan mengejarnya. Mengarahkan daya upayanya untuk berlomba, berebut mengais tumpukan sampah satu persatu. Uniknya, pemandangan ini terlihat sebatas pada ibu-ibu tua dan anak-anak saja. Tak terlihat remaja lelaki atau kaum lelaki.
Ternyata kaum pria sudah mangkal di bandar-bandar sampah. Artinya, sebelum truk sampah tiba, di Bantar Gebang, truk tersebut singgah di bandar sampah. Merekalah yang “mengguliti” serta “menyortirnya” terlebih dahulu. Sisanya, dibuang ke Bantar Gebang dan menjadi rebutan kaum wanita serta anak-anaknya. Tentu dengan penghasilan dan imbalan yang berbeda….
Seperti kata Marni (40), “dari sampah, sebulan saya dapat duit 70 ribu. Duit itu habis untuk membiayai anak-anak sekolah sama makan sehari-hari,” ungkapnya. Untunglah, sang suami yang juga pemulung bekerja pada bandar, sehingga kecukupan makan bisa terpenuhi.
Kemiskinan dan kurangnya pengetahuan, membuat komunitas ini tidak sempat memperhatikan kesehatan.
”Jangan bilang makanan bersih, rumah layak, atau pakaian lumayan, semua bagai andai-andai yang sulit jadi kenyataan. Apalagi pengobatan memadai, seolah kebutuhan lux yang tak terbeli,” ungkap Marni dengan raut muka polos.
Kebersihan yang seharusnya merupakan sebagian dari Iman, semata-mata diacuhkan dan tidak mau tahu atas kejadian ini.
Setali tiga uang. Jalanan yang becek, bau busuk menyebar, air sumur tercemar, sehingga tercium ”kotoran kucing”, belum lagi ditingkahi pesta pora lalat, nyamuk dan tikus. Kondisi inilah ”rela tak rela” dinikmati masyarakat sekitar Bantar Gebang, serta sekelompok masyarakat pengais sampah di areal TPA.
Senin, 28 November 2010
SEMINAR WAJIB MAHASISWA FITK JURUSAN PENDIDIKAN IPS
FITK-Senin (28/11) acara seminar yang dilaksanakan di gedung teater lantai tiga menjadi kewajiban bagi para mahasiswa khususnya jurusan pendidikan IPS. Seminar yang bertema "Pengembangan Budaya Kreatif dan Inovatif dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial " yang dilaksanakan oleh ketua jurusan pendidikan IPS menjadi kewajiban bagi para mahasiswa semester 1-7. seminar yang diisi oleh Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M.Si (Pascasarjana UPI Bandung) dan Supardi S.Pd, M.Pd. (Universitas Negeri Yogyakarta) menyita banyak orang didalamnya.
Dalam seminar tersebut sebagian dosen yang mengajar di Jurusan IPS turut menghadiri. Tidak heran kalau seandainya sebagian dosen meminta daftar hadir para mahasiswa, karena kehadiran tersebut dapat memberikan tambahan nilai sebagai pengganti proses belajar pada hari itu.
"Saya sangat kagum sekali terhadap antusias para mahasiswa yang mengikuti acara ini, karena saya yakin dengan kehadirannya para mahasiswa akan memunculkan pengajar-pengajar profesional yang kreatif dan inovatif," ungkap Supardi kepada salah satu mahasiswa IPS kelas 1a setelah acara selesai.(Rizqi)
Sabtu, 20 November 2010
Menurunya 20% penghasilan para pedagang setelah ‘Idul Adha
Ciputat, Para pedagang yang berada di samping UIN Syarif Hidayatullah merasa sedikit bersedih terhadap penghasilan yang diperoleh. Penghasilan yang diperoleh setelah 3 hari perayaan ‘Idul Adha menurun sekitar 20%. Menurunnya penghasilan tersebut, disebabkan banyaknya kalangan mahasiswa yang pulang kampung dan liburnya kuliah.
“Penghasilan yang didapat hari ini sedikit berbeda dibandingkan dengan hari-hari sebelum ‘Idul Adha”. Ungkap Hendra (33) penjual es yang ditemui ketika sedang berjualan. Hal tersebut serupa dengan Bpk. Mukhtar (68) pedagang gorengan yang mengatakan bahwa “pendapatan setelah hari raya Idul Adha sedikit menurun dibandingkan sebelum idul Adha, pendapatan yang biasanya memperoleh Rp.100.000- berkurang menjadi Rp.80.000,- setelah Idul Adha” Tuturnya kepada salah satu wartawan INSTITUT.
Selain itu, ada beberapa pedagang yang menganggap penurunan penghasilan itu bukan disebabkan sebelum atau sesudahnya Idul Adha karena naik atau turunnya penghasilan itu tidak menentu. “penghasilan sebelum atau sesudah Idul Adha itu biasa saja bagi saya, karena yang namanya pedagang pasti mengalami penurunan dan kenaikan dalam hal penghasilan”. Menurut Shohidin (30) penjual rujak buah.
Penghasilan yang didapat para pedagang memang tidak menentu, akan tetapi permasalahannya ketika melihat fenomena yang ada bahwa penghasilan yang didapat oleh para pedagang mayoritas didapat dari para mahasiswa. Maka wajar ketika para mahasiswa berkurang otomatis penghasilanpun ikut berkurang. (Rizqi).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar